Pages

Mengenai Saya

Foto Saya
Jadilah pribadi yang senantiasa di nanti, di cari dan disegani.. jaga akhlak dan tingkah laku.. manfaatkan waktu untuk yang bermanfaat...
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 03 April 2013

Resume Jurnal Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat (PHPH) ^__^


Pengaruh Antagonis Gliocladium Dalam Media Tanam Terhadap Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Pisang Gajih
a.        Penyakit Layu Fusarium (Fusarium mrysporum f.sp. cubense) dan Mekanisme Penyerangan.
Penyakit layu Fusarium adalah penyakit yang disebabkan oleh serangan jamur Fusarium mrysporum f.sp. cubense E.F. Smith) Snyder & Hansen (Anonim,1994). Cendawan menyebabkan layu pada jaringan vaskuler, busuk akar, daun layu dan menguning serta rebah kecambah. Jamur ini menyerang jaringan empulur batang melalui akar yang luka. Batang yang terserang akan banyak kehilangan cairan dan berubah warna menjadi kecoklatan. Bagian tepi daun bawah menjadi kuning tua (layu) dan tangkai daun patah di bagian pangkal (Sahlan et al., 1996 dalam Purnomo, 1996).
b.        Agens Antagonis (Gliocladium sp)
Salah satu cara pengendalian penyakit layu Fusarium adalah dengan cara biologi yaitu menggunakan agens antagonis Tri­choderma spp., Gliocladium sp. dan Chaetamium sp.(Anonim, 1999). Hasil uji antagonis antara jamur Fusarium sp. penyebab layu pada pisang dengan agens antagonis Gliocladium sp. dan Trichoderma sp. menunjukkan bahwa jamur Gliocladium sp. lebih efektif dalam menekan patogen Fusarium dibandingkan dengan Trichoderma sp.
c.         Mekanisme Pengendalian Dengan Agensia Pengendali Hayati.
Media tanam yang menggunakan tambahan Gliocladium kompos, intesitas kematian anakan pisang akibat serangan Fusarium lebih kecil dibandingkan dengan media tanam yang tidak ditambahkan Gliocladium kompos. Hal ini disebabkan Gliocladium sp mempunyai daya tumbuh yang lebih cepat, serta mampu memproduksi senyawa yang bersifat toksit bagi mikroba lain (Wiyono & Sinaga, 1994).

Aplikasi Agen Hayati Pseudomonas fluorescens Sebagai Penginduksi Ketahanan Untuk Menigkatkan Produksi Tanaman Cabai Terhadap Penyakit Virus Kuning Di Kecamataan kuranji Kotamadya padang
a.        Penyakit kuning (Penyebabnya Peper Yellow Leaf Curl Virus) dan Mekanisme Penyerangan.
Virus kuning berkembang sangat pesat pada musim kemarau melalui vector atau inang perantara kutu kebul (Bemisa Tabaci) dan Kepik Hijau (Avidiaus Sp), virus ini biasanya menyerang tanaman tomat dan cabe pada musim kemarau. Pada musim kemarau tumbuhan akan kekurangan unsur hara, sehingga rentan terhadap berbagai serangan penyakit, dan pada fase selanjutnya akan mengundang kutu kebul yang menjadi vektor (penyebab) penyebaran virus kuning (Khairul, Pertanian, Serambi Nusa). Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati. Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan.
b.        Agens Antagonis (Pseudomonas fluorescens)
Pseudomonas fluorescens berbentuk batang lurus atau agak lengkung, berukuran (0,5-1,0) x (1,5-5,0)┬Ám, tidak spiral, bergerak dengan satu atau beberapa flagellum polar, dan bersifat gram negatif. Bakteri hidup secara aerob, mempunyai tipe pernapasan secara tegas dari metabolisme, dengan oksigen sebagai penerima elektron akhir (terminal), mempunyai tipe metabolism respirasi tidak fermentatif, dan menggunakan denitrifikasi sebagai pilihan. Beberapa bakteri bersifat kemolitotrof fakultatif, yang menggunakan H2 sebagai sumber energi, sedangkan mekanisme respirasinya bersifat aerob (Soesanto, 2008).
Salah satu upaya peningkatan produksi tanaman cabai adalah dengan teknik budidaya yang baik dan pemupukan yang benar. Bagi petani pupuk P (Fosfor) identik dengan “pupuk buah” makin banyak P yang diberikan makin tinggi hasil yang dicapai. Menurut Fernandes et al (1985) cit Prihartini, dan Anas, (1989) inokulasi bakteri pelarut fosfat dapat meningkatkan serapan fosfat oleh tanaman dan bobot kering tanaman sampai 50% dibandingkan tanpa inokulasi.
Bakteri pelarut fosfat membantu menyediakan hara bagi tanaman dengan mengekstrak fosfat menjadi bentuk yang tersedia, dengan cara mengeluarkan asam-asam organic ( Rao, 1982 cit Hanafiah dan Oeliem, 1995). Asamasam organic tersebut kemudian akan bereaksi dengan. Al, Fe, Ca, dan Mn yang mengikat P selama ini sehingga P yang terikat akan dibebaskan, dengan demikian P menjadi tersedia bagi tanaman. Salah satu group mikroorganisme yang punya potensi untuk dikembangkan sebagai agen hayati adalah Pseudomonas fluorescens.
c.         Mekanisme Pengendalian Dengan Agensia Pengendali Hayati.
Bakteri P. fluorescens dapat memberikan pengaruh menguntungkan terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman, yaitu sebagai “ Plant Growth Promoting Rhizobacteria” (PGPR). Bakteri juga menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan patogen, terutama patogen tular tanah dan mempunyai kemampuam mengoloni akar tanaman. Bakteri mempunyai tipe interaksi dengn patogen berupa pesaing hara, penghasil antibiotika, siderofor, dan asam sianida (Soesanto, 2008).
P. fluorescens mampu menguasai permukaan perakaran secara luas dan menghasilkan antibiotika, sehingga patogen terganggu perkembangannya. Bakteri antagonis P.  fluorescens mampu mengimbas ketahanan tanaman terhadap mikroba patogen. Secara umum, metabolit sekunder yang dihasilkan oleh P. fluorescens memegang peranan penting dalam pengendalian hayati penyakit tanaman. Metabolit sekunder yang berperan penting dalam pengendalian hayati, yaitu siderofor, pterin, pirol, fenazin, dan aneka senyawa antibiotika. Metabolit sekunder tertentu berperan di dalam membunuh secara langsung atau hanya menghambat patogen. Produksi metabolit sekunder antimikroba dan pengaruhnya terhadap patogen tanaman sangat tergantung pada faktor lingkungan, seperti kimia tanah, suhu, dan potensi air (Soesanto, 2008).

Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Nilam Menggunakan Pseudomonas fluorescens dan Bacilillus Spp.
a.        Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Mekanisme Penyerangan.
Penyakit layu bakteri nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika (Hayward, 1984), dan banyak menyerang tanaman pertanian di antaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau dan suku Solanaceae lainnya. Penyakit layu bakteri nilam menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat. Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bawah.
b.        Agens Antagonis (Kombinasi Pseudomonas fluorescens dan Bacillus spp)
Pemanfaatan kombinasi antagonis dalam pengendalian penyakit tanaman merupakan langkah perbaikan pendekatan pengendalian hayati. Kombinasi antagonis ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan antagonis tingkat perlindungan yang lebih tinggi, karena dapat mengurangi variabilitas antagonis dan mempunyai kemampuan penekanan patogen secara mekanis terpadu dari setiap antagonis. Seperti Pseudomonas fluorescens dan Bacillus spp dapat mengendalikan Botrytis cinerea pada stroberi yang menghasilkan senyawa volatile dengan pengaruh fungistatik.
c.         Mekanisme Pengendalian Dengan Agensia Pengendali Hayati.
Mekanisme antagonistic terlihat Pseudomonas fluorescens lebih cenderung menggunakan kemampuan kolonisasi akar produksi siderofor dan asam sianida, disamping antibiotic yang begitu rendah. Sebaliknya Bacillus spp mempunyai mekanisme antagonistic lebih cenderung dengan kemampuan produksi antibiotic, sehingga dalam hal ini untuk meningkatkan kemampuan kedua antagonis tersebut dilakukan kombinasi mekanisme antagonistic kedua agens hayati tersebut.
Kemampuan antagonistic kedua strain tersebut dalam menekan perkembangan penyakit dapat dihubungkan dengan mekanisme penghambat oleh senyawa antibiosis. Selanjutnya strain Bacillus spp dan Pseudomonas fluorescens, disamping menghasilkan antibiosis juga mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengkolonisasi akar tanaman, sehingga strain tersebut mampu berkompetisi dalam ruang dan nutrisi dengan bakteri pathogen, termasuk pathogen tular tanah seperti R. solanacearum. Hal ini dikarenakan Bacillus spp dan Pseudomonas fluorescens mampu menggunakan berbagai substrat sebagai nutrisi, dan mempunyai pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan bakteri patogen.

0 komentar:

Poskan Komentar